Kamis, 05 Desember 2013

Morning bloggers, jumah mubarak! Wish you have a great day.

Pagi ini gerimis terus, bangun pun jadi telat, kwkkwkwk...malu-maluin aja. Tapi ya gitu, belum sempat beres-beres tapi pengen duduk depan lappy. Padahal setumpuk piring kotor masih teronggok lemah disana,aahh..apa sih bahasanya, haha. Ya itu, hasil dari bikin ayam bakar semalam. Kita lupakan sejenak ya, hm, dengan sepiring pisang goreng dimeja, dan juga segelas teh panas, hmm..complete dah. SIMPLE! Ssst...Hanif masih bobo, hihi..



»»  read more

Sabtu, 10 April 2010

At last...

»»  read more

Jumat, 18 Desember 2009

Music to Life (a writing)

Music seems to be a soul to human’s life. Over the years, people are familiar with different music as the custom of their life. Currently, it is indicated that there are sort of music in the world. One question remains, why do people need music? On the whole, besides it can entertain the listener, the music can also identify who the people are. Then, music becomes an inspiration for people to spend their life time. As whole, music can be distinguished, traditional and international music.



Recently, traditional and international music enchanted many people. Traditional music comes from the culture of some society then they interpret the music through culture too. The traditional music has certain characteristic that represent their culture. For instance, in Aceh that has authentic traditional music that represents the Aceh itself, like Rapai. Traditional music is an essential will to people itself, so that many people in certain culture strive to maintain it. Because traditional music is seems to be symbol to the people. On the other hand, international music is an enjoyable entertainment known by many people. Essentially, there are kinds of international music and everyone in the world has his own favorite genre. However, it is said that sometimes some of international music influence bad manners to the personality. It is not authentic anymore and looks like just for fun. Because of that, traditional music is more important than international music.


In conclusion, whatever the kind of music, it has certain aspect to influence the people. People love music, even without music the people feels empty because it makes life become a life.





»»  read more

Kamis, 03 Desember 2009

Teruntuk Kau di Negeri Orang

Desir angin itu hampa meliukkan jiwa

Saat itu kawanku bertanya “apakah rasa rindu? Indahkah atau perih”

Lontaran tanya itu hanya berbuah kelu di hatiku

Kosong rasa buat jiwa sunyi

Hanya pikiran maya yang mampu menyusuri ruang-ruang sempit namun tetap bayangnya yang hadir

Saat itu aku baru menyadari…

Hati dan jiwaku tak sempurna tanpamu…



'Untuk kau yang sedang di Negeri Orang… '








»»  read more

Senin, 30 November 2009

Cerpen (A Short Story of TOBELY MEMORY by nafa)

Penat kembali merajaiku saat kuayunkan langkah untuk pulang, gerimis masih menemani sepeda yang kunaiki. Tiba-tiba hatiku kembali tertegun ketika melewati kawasan rerumputan tinggi di perbukitan kecil di tepi jalan yang slalu kulalui. Sepeda ku arahkan pelan, tak ada yang indah disana. Hanya sebuah pohon rindang diantara rerumputan yang agak meninggi menghiasinya. Tak kutemukan bunga atau semacamnya tumbuh disana, namun siapa yang tau? Toh aku tak pernah mengunjungi tempat itu. Namun mengapa aku terus menatapnya? Ya, ku hanya menatapnya…

Pagi ini masih sama seperti pagi-pagi yang kemarin, rute yang kulalui masih melewati bukit kecil itu. Hal yang selalu sama karena itu mang satu-satunya jalan yang dapat membawaku ke tempat kerjaku di perbukitan penuh strawberry di tengah Aceh. Sejak kelulusanku di pertanian Unsyiah, aku memilih berdiam diri di tempat berhawa sejuk ini. Kebetulan aku memiliki orang yang menyayangiku disini, sepasang manusia yang tegar yang slalu memberi dekap hangat saat hatiku terpaku oleh dinginnya rasa, dua sosok yang slalu menginspirasiku untuk terus menjaga hijau negeri diatas awan ini.


Waktu kulalui selalu dengan rutinitas yang sama, begitu bangun aku langsung mendidihkan air, aku belum begitu terbiasa dengan suhu air di kawasan ini, dinginnya kerapkali menggerogoti saraf-sarafku. Tak jarang aku langsung diserang oleh sakit kepala hebat.


"Saat embun bergelantung di rerumputan…"

Aku melihatnya lagi, masih di tempat yang sama… apakah dia tak pernah meninggalkan tempat itu? Ada yang dilakukannya disana? Apa yang terjadi dengannya. Huh, kepalaku dihujam dengan ribuan tanya… mengapa?

"Kebun merahku…"

Aku masih diantara rindang pohon di kaki bukit tempat orang tua angkatku berkebun. Dari rangkang tua ini, aku bisa dengan bebas menatap luasnya danau kebanggaan warga Aceh ini. Sangat indah walau diperhatikan berkali-kali, bahkan terus menjadi indah, Laot Tawar namanya.


“Ta, kamu kenapa?” tiba-tiba Mak menghampiriku.


“Oh, mak, tak mengapa, ta cuma bingung, ta selalu melihatnya di bukit di pinggir danau itu. Dia selalu ada disana ketika ta melewati jalan itu. Aneh!


“Yang kau maksud itu sapa nak?” Mak malah bingung.


“Hehe…Ta jadi ngelantur ya mak? Gak ada apa-apa. Oya, besok pagi Wak Ardi jadi kesini? Stroberinya gimana?”

 "Siapa dia?"

Kepalaku semakin dipusingkan dengan munculnya dia di setiap mimpiku. Namun, aku tidak mengenali wajahnya. Aku hanya menatap punggungnya dari tempat ku berdiri, tidak! aku hanya menatapnya dari tempat sepeda kesayanganku berhenti. Aku tak pernah berani menghampirinya, bahkan aku tak sanggup menegurnya ketika aku berusaha mengumpulkan segala keberanianku.


Siapa dia?


(Do You Know Who was she/he?) Do not go anywhere!!!!!!


I'll be right back....^0^
»»  read more

Rabu, 25 November 2009

Membangun Jaringan Komputer Lokal tanpa Kabel

Sekarang dimana-mana dengan mudah kita dapat melihat orang menggunakan notebook dengan berbagai kepentingan. Mulai dari bekerja, browsing, chatting, dan sebagainya. Bahkan di Aceh kita dapat menjumpai hal ini di warung-warung kopi. Pihak pengelola warung kopi sengaja menambahkan fasilitas hotspot atau access point yang sudah ready terhubung ke internet.
Satu hal biasa namun cukup menarik untuk diangkat dan penulis alami sendiri adalah ketika sedang browsing bersama seorang kawan bernama Iwan Kambam di sebuah warung kopi memintai flashdisk dari saya untuk mengkopi beberapa data tentang pencemaran air ke notebook penulis. Sayang saya tidak membawanya. Santai saja saya katakan agar mengirimkan file-file tersebut via jaringan. Nah hal inilah yang ankan penulis angkat.

Ngopi dulu ah... besok lanjut lagi...
»»  read more